Hello guys, ini sebenarnya sudah di posting di sosial media ku hehe tapi sekarang aku bookmark lagi aja di website personal biar aman hihihi :)

Ngapa Yakk
Ngapa Yakk

“Selamat malam tahun masehi yang akan berakhir, yang mengajarkan ku nikmatnya mengikhlaskan takdir. Yang ku paham sejak dulu, setiap pertemuan akan bertakdir pada perpisahan. Pahit memang, namun, manis jika diikhlaskan. Banyak yang lalu lalang lalu menghilang. Namun, tak sedikitpula yang memutuskan menetap, namun tak seatap. Perpisahan tak selamanya pahit, tapi memang sakit untuk awal hidup yang akan ku rakit. Lara ini mengajarkan ku tentang segala rasa, yang saat ini membentuk asa, yang jua takkan ku biarkan sia-sia. Kisah ini kutuliskan dengan segenap rasa.

2009-2017, 9 tahun perjalanan hebatku tanpa sosoknya. Ya, umi. Abah dan umi memutuskan berpisah karena tuntutan keadaan yang ada. Tak banyak tau ku sebab dan prihal apa yang menyebabkan keluarga ini tidak sejalan dengan semestinya. Namun, takdir memang begitu hebat saat itu memberiku segala tantangan jua cobaan. Sejak itu, umi tak pernah mencari tau tentang anak-anaknya. Selayaknya menghilang dari permukaan bumi, namun dimana pun dia berada harapku dia masih disana menanti. Dan, harapku benar saja, usaha juga tau kepada siapa dia akan berikan hasil. Februari 2018, aku menemukan kembali kontak umi, namun, kembali lagi sampai detik ini pertemuan belum bersahabat untuk kita bertatap muka kembali.

Sejak kecil aku sudah ditinggal abah bekerja di negeri orang, iya, abah sebagai TKI disana. Namun 2011 setelah perpisahan itu terjadi, abah kembali ke tanah air, tidak lama, namun cukup mengobati hidup ku yang saat itu bergantung pada bibi dan paman yang ikhlas merawatku. 3 bulan berlalu, abah memutuskan kembali menjadi TKI, saat itu aku yang sudah terbiasa tanpa abah, tak punya rasa sedih yang terlalu saat akan ditinggalkan. 6 tahun berlalu, abah kembali ke tanah air, disaat aku sudah beranjak dewasa. Namun, abah kembali dengan penyakit yang ia derita. Berita kepulangannya sempat tidak ku ketahui karena aku masih praktek kerja lapangan di luar kota.

Satu minggu sebelum kepulangan ku, aku baru mengetahui jika abah sudah dirumah dan sedang sakit. Sesampai dirumah, inginku berbincang lebih banyak lagi bersama abah, namun melihat keadaannya yang tidak memungkinkan, aku memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Selama 6 bulan lamanya abah berketergantungan obat. 3 bulan pertama masih bisa bertahan dirumah, 2 bulan setelahnya abah dilarikan kerumah sakit terdekat dan di rawat intensif disana, dan daya tahan tubuhnya terus berkurang, membuatnya harus di pindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai. Abah kembali harus dirawat intensif dirumah sakit ini, namun, setelah abah berusaha melawan sakitnya ia kalah, ia harus di larikan keruangan Intensive Care Unit (ICU), yang perawatan dan penjagaannya lebih ketat lagi. 4 hari lamanya abah di dalam sana, hanya pihak dokter saja yang boleh lalulalang di ruangan ini, pihak keluarga hanya diberikan kesempatan sekali sehari, itu pun jika sudah terlalu urgent.

16 Mei 2017. Ini adalah titik terhancur dalam hidup ku, bagaimana mungkin esok saatnya Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Nasional pagi dini hari abah meninggal dunia. Rasanya seperti semua mimpi yang sudah ku rakit gagal. Seperti merasakan hidup yang akan hancur kedepannya. Seperti tidak ada harapan lagi untuk kehidupanku yang layak. Semangat yang membara untuk menghadapi tes seketika hilang, iya ini adalah titik terlemah ku sebagai manusia lemah. Mungkin sebagian orang akan mengatakan ini hal yang berlebihan namun, inilah yang kurasakan pasti mengenai segala hal yang hilang saat itu.

Waktu kian berlalu, hidup terus berjalan kembali tanpa abah, tanpa umi, mau tidak mau. suka tidak suka. Bersama semangat yang ku coba bakar lagi, hidup ku harus tetap berjalan dengan semestinya. Walau kesempatan masuk PTN ku gagal, walau abah kembali pergi namun pergi kali ini abadi, seperti kepergiannya kasih sayang untuknya pun akan tetap abadi. Perlahan aku bangkit dari segala hal yang membuatku lupa akan indahnya cobaan dari Allah. Karena aku percaya bersama kesulitan ada kemudahan, itulah janji Allah pada ummatnya.

Saat ini semua berjalan dengan semestinya, walau hal-hal menyakitkan itu datang ditahun sebelumnya, namun itulah yang membawa ku lebih baik di tahun ini, masih banyak yang kurang untuk hidupku yang fana ini, banyak pelajaran yang ku ambil dari perginya orang-orang yang sangat kubutuhkan, takdir ku kuat, Allah mengajarkan ku hidup tanpa mereka. Tahun ini, ku ikhlaskan segala yang terjadi, karena melupakan bukanlah cara yang tepat untuk menghilangkan dari ingatan, bagaimana pun kisah ini akan melakat, namun, aku sudah mengikhlaskan.

Mungkin jalan menuju sukses ku kali ini berbeda dengan teman-teman ku yang diiringi di damping oleh kehangatan keluarga, namun, setidaknya dari hatiku yang paing dalam, aku berhasil membuktikan, aku tanpa kehangatan keluarga sekali pun bisa hidup walau jatuh dan banyak luka. Dan tidak ada luka yang tak sakit, namun sakit tidak ada pula yang abadi, hanya kematian yang akan abadi. Tidak ada satupun yang bisa menghalangi jalan ikhlasmu menuju kesuksesan dan menggapai impian, kecuali dirimu sendiri mu sendrilah yang menghalanginya, percaya Allah, percayakan dia punya hal hebat untuk kau jumpai. Menguatlah untuk jadi yang terhebat “

Inilah kisahku mana kisah mu !

Content Creator:

Septia Adelia Amin
Septia Adelia Amin

Note:

Cerita ini dibuat secara bersama - sama dengan rekan sendiri yang terdiri dari 2 orang diantanya Septia Adelia Amin sebagai content creator dan saya sendiri sebagai plan dan objek cerita